Sabtu, 05 Februari 2011


Gunung dan Cinta

Gunung dan Cinta
Ada sebuah kisah tentang seorang bocah sedang mendaki gunung bersama ayahnya.
Tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduhh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”.
Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei! Siapa kau?”
Jawaban yang terdengar, “Hei! Siapa kau?”
Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.
Ia bertanya kepada sang ayah, “Apa yang terjadi?”
Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, “Anakku, coba perhatikan.”
Kemudian Lelaki itu berkata keras, “Saya kagum padamu!”
Suara di kejauhan menjawab, Saya kagum padamu!”
Sekali lagi sang ayah berteriak “Kamu sang juara!”
Suara itu menjawab, “Kamu sang juara!”
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan.” Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu.
Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu. Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan
kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya.
Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.

Dia

Dia adalah Seseorang yang sangat aku sayangi dan aku cintai, seseorang yang selalu memendam permasalahan sendiri, selalu tampak tegar ditengah kerapuhannya. Selalu tersenyum ditengah kemarahannya, hal itu yang membuat aku sayang padanya, tetapi dia juga yang membuat aku terhanyut dalam kesedihan ini.
Dia bernama Andri, aku bertemu dengannya di sebuah acara kemahasiswaan, dia anak yang baik dan humoris, makanya gak heran dalam waktu singkat kami bisa berteman akrab, teman-temanku mengira kami pacaran dan mereka sangat mendukung. Aku hanya tersenyum geli melihat teman-teman ku menjahili dia, terfikir olehku apa benar yang mereka katakan. Tapi aku menepisnya, aku gak mau memikirkan hal itu, karena aku pernah bertekad untuk tidak pacaran sampai aku selesai kuliah dan aku berusaha menjaga itu.
Waktu terus berlalu, aku juga tak mengerti kapan rasa itu datang dan hinggap di hati ini, berawal saat kami bermain ke rumah Hilman, saat itu hilman mengajak ku keluar untuk membeli makanan, kami bercerita banyak hal sampai hilman menyinggung tentang Andri dan pacarnya, aku terperanjat sejenak, tapi cepat-cepat kusembunyikan rasa itu, aku kembali bercerita seolah-olah aku tau kalau dia sudah memiliki pacar, baru aku tersadar hatiku sakit mandengarkan cerita dari hilman.
Sepulang dari rumah hilman, aku lebih banyak diam begitu juga dengannya, dia marah karena aku terlalu lama pergi bersama hilman, tapi bukan itu yang ku pikirkan, aku memikirkan diriku, ada apa denganku, aku hanya temannya, mengapa aku cemburu dan sakit hati kalau dia memiliki pacar, mengapa tidak terpikirkan olehku kalau orang semanis dia pasti ada yang memiliki, dasar bego!. Aku tersenyum sendiri dikamar, mencoba untuk ceria, menganggap hal ini biasa dan pasti bisa ku atasi, aku bertekad pada diriku untuk menjadi teman yang baik, selalu ada disisinya saat suka dan duka. Semangat teriakku pagi itu.
Namun perasaan itu muncul kembali saat kami pergi makan di suatu café, disana dia mencurahkan semua isi hati yang selama ini di pendamnya, aku terkejut melihatnya menangis layaknya seorang anak kecil di hadapanku, belum pernah aku melihat dia seperti itu, tarnyata dibalik keceriaannya selama ini tersimpan luka yang sangat dalam, aku terharu ketika dia mengatakan percaya padaku, aku sangat sayang padanya tapi aku tak mungkin memilikinya.
Setelah kejadian itu dia lebih terbuka padaku tentang pacarnya yang selama ini dia tutupi, aku semakin mengerti bagaimana dirinya, makin memahami apa yang diinginkannya, harapku suatu hari dia memiliki seseorang yang benar-benar mengerti dirinya dan sayang padanya, walau hati ini hancur setiap kali mendengarkan dia bercerita tentang pacarnya. Akan tetapi yang tak ku mengerti, kerap kali dia mengatakan satu hal yang membangkitkan kembali perasaan ku, bahwa dia tak ingin melepaskanku karena aku telah menjadi sebagain dari dirinya, aku bingung, tapi aku juga gak punya nyali untuk bertanya kepadanya bagaimana perasaan dia terhadapku.
Sampai pada puncaknya aku tak kuat membendung perasaanku sendiri, aku mengatakan padanya kalau aku sayang padanya dan aku tau perasaan ini gak boleh terbina, aku hanya sekedar mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku, terserah dia menganggap apa yang penting hatiku lega, aku tidak akan membahas masalah ini lagi, karena aku berjanji akan selalu menjadi teman dan sahabat yang baik buatnya
Namun rasa sayang dan cinta sudah bersemi dalam hatiku, tak mudah untuk menepisnya, walau aku sudah berusaha, ternyata benar kata pepatah cinta itu datang tiba-tiba walau kita tidak menginginkannya, tapi setelah kita tau mengapa terasa sakit jadinya. Entah mengapa, setelah kejadian itu dia makin perhatian padaku, aku gak pernah tau apa maksudnya karena dia tak pernah mengatakannya padaku, yang aku tau dia memberikan perhatian lebih dari biasanya, seakan-akan menjawab semua pertanyaan tanpa harus diungkapkan, aku gak peduli aku hanya ingin menjalani apa yang aku jalani sekarang, tidak mau berfikir yang muluk-muluk tentang masa depan, apa yang terjadi antara aku dan dia biarlah berjalan seperti sekarang ini, tanpa kata-kata tapi saling mengerti dan memahami maksud satu dengan yang lain, walau entah sampai kapan hal ini akan berlanjut, akupun tak tau. Tapi biarlah kisah ini berjalan seiring dengan waktu yang kami pun tak pernah tau akhir dari semua ini, tapi aku tetap berharap semoga…….
(kira-kira endingnya gimana Ya….kasih commentnya ok…)



Inikah Takdir

Aku cukup sedih hari itu. Pelbagai perasaan menerjah lubuk hati ini. Malu, marah, kecewa dan hiba. Rasa bahagia dan gembira yang sepatutnya mewarnai pelangi kehidupanku pada hari itu nyata sirna. Lenyap. Sebaliknya, aku terluka, sengsara, rasa terhina dan menderita. Tidak kusangka orang yang aku sayangi dan percayai sepenuh hati telah bertindak mempermain da memperbodohkan aku. Segala-galanya menjadi sungguh kabur dan gelap pada ketika itu. Sehingga kini, aku masih dapat membayangkan kekecewaan abah apabila beliau terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Sungguh aku tak dapat membantu menghapuskan garis duka di wajah orang tuaku itu tatkala abah menelan liur yang ternyata tiada sebarang rasa. Entah bagaimana perasaan abah apabila terpaksa memohon maaf kepada tok kadi, dan semua warga yang telah hadir bagi memeriahkan majlisku. Sungguh, aku pasti akan menitiskan air mata apabila mengingatkan kembali perasaan abah apabila anaknya ini ditinggalkan oleh bakal suaminya sendiri pada hari bahagianya sendiri!

Perasaanku semakin berbaur tika melihat perubahan diri abah sejak itu. Abaha semakin kerap termenung dan berdiam diri. Aku pasti, abah sedang merindui arwah ibu. Kulihat abah sering bersendirian di bilik bacaan sejak akhir-akhir ini. Sudah banyak kali aku melihat abah mengesat air matanya sambil menatap gambar arwah ibu. Aku tahu, abah tidak mahu menunjukkan kekecewaannya dan seboleh mungkin dia menyembunyikan perasaannya daripada pengetahuanku. Namun, hati tuanya tersentuh jua apabila anak gadisnya ini ditimpa dugaan yang berat itu. Lantas, aku menguatkan semangat untuk meneruskan hidup kerana aku sudah tidak betah membiarkan abah terus berduka.

Maka, aku menguatkan hati dan membulatkan tekad untuk meninggalkan bumi Malaysia buat seketika waktu bagi memulihkan hati dan membina kembali kekuatan diri. Hanya gambaran kota besar London terbayang dalam kotak fikiranku saat itu. Abah hanya mampu bersetuju memandangkan dia tahu aku perlu masa untuk menenangkan diri. Berbekalkan restu abah dan torehan luka di jiwa, aku meninggalkan bandaraya Johor Baru bagi membuka lembaran baru hidupku. Tidak putus kupanjatkan doa agar kutemui hujan emas di bumi orang berbanding hujan batu yang telah dan tidak sanggup kutempuhi lagi di bumi Malaysia ini.

Segalanya memang sukar! Aku terpaksa menggagahkan diri mengenangkan janji yang telah kumeterai dengan diriku sendiri. Aku mendapat pekerjaan di sebuah syarikat komputer atas bantuan sahabat abah, Mr. Douglas. Nasibku agak baik kerana aku sempat menamatkan pengajianku di sebuah universiti tempatan dan memperoleh segulung ijazah dalam bidang tersebut, sebelum hari penuh duka itu tiba. Jika tidak, mungkin pertolongan beliau akan dipersoalkan andai aku tiada sebarang dokumen atau kelayakan untuk meyakinkan yang lain.

Aku menetap di sebuah apartment murah di bandar besar itu, bersama Celia dan Sandra. Aku mengenali mereka berdua yang kebetulan pulang bercuti dari Malaysia di dalam penerbangan yang akhirnya menjalinkan persahabatan antara kami bertiga. Perbezaan agama dan bangsa tidak pernah menghalang mereka untuk terus melayaniku dengan baik. Malah, mereka turut mengutuk tindakan Amran yang meninggalkan aku tanpa sebarang sebab. Tak kunafikan, hampir saban malam merka terpaksa menenangkan aku dan mendengar esakanku. Nyata, hanya zahirku sahaja yang meninggalkan tanahair, memoriku tatap di sana. Celai dan Sandra tabah menghadapi kerenahku. Mereka sering membawaku menelilingi kota besar ini untuk merawat perasaanku. Peluang melawat Houses of Parliament dan Westminster Abbey mampu menggembirakan hatiku.

Setelah hampir lima tahun berada di Bumi asing ini, aku mula menunjukkan tanda-tanda pemuliuhan. Aku sudah tidak menangisi peristiwa lepasku lagi. Aku telah bersedia menerima peristiwa buruk itu sebagai satu pengalaman. Perkenalanku dengan Sufian kembali membungakan kebahagiaan. Lelaki ini tinggi orangya, berkulit sawo matang. Air mukanya sentiasa tenang. Cukup sukar untuk memancing kemarahannya. Sikapnya yang bersahaja sering membuatkan aku tertawa. Kami berdua sering menghabiskan masa dengan bersiar-siar di sekitar taman-taman indah di kota besar ini. Kunjungan ke Hyde Park, Kensington Park dan Green Park selalu mendamaikan perasaanku. Dari situ aku tahu, sinar hidupku telah kembali. Bintang hidupku mula bersinar. Meskipun demikian, aku aku tetap berwaspada agar tragedi itu tidak berulang. Tarikh 4 Ogos 2002 mula kulupakan dan kucampak jauh dari ufuk pemikiranku.

Perkenalan kami berdua dimulakan dengan pertengkaran. Ketika itu, aku dan Celia sedang mebeli-belah di sebuah pasaraya. Tiba-tiba, seorang lelaki terlanggar aku, namun tiada kata-kata maaf yang keluar dari mulutnya. Melihatkan keadaannya yang agak tergesa-gesa, aku mengambil keputusan untuk memaafkannya sahaja. Tidak lama kemudian, seorang lelaki telah tersinggung bahuku dengan agak kasar. Aku hampir tersungkur, namun sempat berpaut pada lengan Celia. Aku mengaduh kesakitan. Bahuku terasa sengal. Kemudian, aku menoleh kerana menyedari orang yang telah merempuhku itu tidak berkata apa-apa, malah terus melangkah menuju ke destinasinya yang tidak kuketahui. Api kemarahanku mula menyala. Kesabaranku mula tercabar. Segera kupanggil jejaka itu. Aku dan Celia terperanjat dan tergamam seketika kerana menyedari dialah orang yang sama yang telah melanggarku tadi! Tanpa berfikir panjang, aku terus menghamburkan kata- kata yang agak kesat bagi melepaskan kemarahanku. Setelah menyedari kesilapannya, lelaki itu pun memohon maaf dan cuba menjelaskan keadaannya yang kononya sedang mengejar masa. Biarpun demikian, aku menganggapnya sebagai tindakan tidak bertanggungjawab dan berbau sengaja lalu bertindak menamparnya! Dia tampak terkejut. Celia yang tidak menyangka akan tindakanku segera memohon maaf kepadanya dan menarikku pulang. Apatah lagi bila melihatkan orang ramai mula bergerak ke arah kami. Tinggallah lelaki itu terpinga-pinga. Bingung.

Setelah tiba di rumah dan kemarahanku telah reda, aku mula didatangi perasaan lain. Perasaan bersalah. Ya, perbuatanku terhadapnya agak keterlaluan. Apatah lagi dia telah memohon maaf. Aku akui, aku teremosi kerana kejadian itu mengingatkanku pada Amran. Sebagai impaknya, tamparan yang sepatutnya hinggap di pipi Amran, kuhadiahkan buat lelaki itu. Celia dan Sandra juga menyalahkanku kera bersikap tidak rasional dan terburu-buru. Aku hanya membatukan diri menyedari sikapku yang mudah terbawa-bawa dan tidak berkifir panjang itu.

Sesudah peristiwa itu, aku mula mengubah fiilku. Buku-buka dan kaset ceramah agama mula menjadi perhatianku. Nasihat-nasihat abah yang selalunya hinggap di telinga sahaja, kini melekat di hati dan menjadi santapan rohaniku. Kata-kata abah sering membuatku mengalirkan air mata. Semuanya cukup bermakan bagi diri ini walau Cuma sepatah kata. Ungkapan yang satu ini sering terngiang-ngiang di cuping pendengaranku, “Ina, walau dunia ini bergoncang, walau apa pun yang memaksa kamu berubah, kekalkan seperkara dalam diri. Sabar. Nescaya segalanya dapat kamu atasi.” Itulah nasihat abah setelah Amran meninggalkanku. Aku menangis lagi. Menyesal. Mengapa sebelum ini fikiranku begitu sempit untuk dimuatkan mutiara berharga ini? Tidak matang sungguh aku ini! Membiarkan perasaan menguasai akal! Merelakan syaitan merajai hati! Ya, abah! Aku akan berubah mulai detik ini!

Khamis, 4 Oktober 2007. Aku terserempak dengan lelaki itu di sebuah restoran berdekatan National Gallery. Ketika itu dia sedang makan tengahari seorang diri. Aku segera melabuhkan punggung di kerusi berhadapan dengannya dan memulakan bicara. Kata-kata maaf kulafazkan berulang kali. Aku mula resah apabila dia hanya berdiam diri mendengar kata-kataku. Perasaan tidak senangku luntur bila dia menguntum senyumnya sejurus aku menamatkan bicara. Mujurlah dia tidak ambil pusing dengan perlakuanku tempoh hari. Kemudian, kami sama-sama tertawa mengingatkan peristiwa itu setelah diam seketika. Dia kemudiannya memperkenalkan diri sebagai Sufian. Syukri Ahmad Sufian bin Mohd Zainal. Aku menarik nafas lega kerana dia menganggap tamparanku sebagai slam perkenalan kami berdua. Tak pernah kuduga, tamparan itu tidak hanya hinggap di pipi, tetapi turut berbekas di hatinya!

Setelah hampir dua tahun kami mengatur bicara dan mengikat janji, Sufian melamarku. Aku menerimanya setelah memohon restu dan pendapat abah. Tidak dapat kulupakan tangisan syahdu abah apabil mengetahui berita itu yang melambangkan perubahan anaknya menuju bahagia. Kami pulang ke Malaysia untuk melangsungkan pertunangan dan seterusnya mengikat janji perkahwinan. Kami juga telah memutuskan untuk menetap di tanahair setelah berumahtangga nanti. Di sini, aku mengenali keluarganya dengan lebih rapat. Alhamduliilah, mereka menyambut baik kedatanganku. Sufian juga memaklumkan tentang keluarga angkatnya yang juga menetap di Johor Baru. Katanya, abang angkatnya Syed Mohd akan menjadi pengapitnya pada hari persandingan kami nanti. Banyak juga cerita tentang lelaki itu meniti dari bibirnya. Saudara tanpa pertalian darah itu sering menjadi sahabat baiknya. Mereka cukup sukar untuk direnggangkan memandangkan sudah terlalu banyak perkara yang dikongsi bersama. Syed Mohd sering menghubunginya dan menjadi penghubung kasihnya dengan keluarga Encik Farith. Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. Gembira memiirkan yang aku akan melangkah ke alam baru tidak lama lagi. Namun, dalam masa yang sama aku tidak putus berdoa agar peristiwa lama tidak berulang kembali.

Hari pernikahanku tiba hari ini. Debaran di dada sungguh mengetuk hati. Aku resah menantikan ketibaan rombongannya. Keresahanku hilang tatkala mendengar paluan kompang. Menitis jua air mataku. Abah, anakmu tidak ditinggalkan lagi! Aku terharu mendengar Sufian melafazkan ijabnya untuk menikahiku pada abah yang menjadi waliku. Air mataku tumpah lagi melihat sinar kegembiraan dan kebahagiaan terukir di wajah abah. Hari ini aku melihat senyuman abah berseri semula. Kini, aku telah sah menjadi isterinya. Syukur, igauan ngeriku tidak berulang.
Majlis persandingan kami akan dilangsungkan petang nanti. Setelah penat bergambar, kami berdua melarikan diri seketika untuk merehatkan diri di dalam bilik, selain meloloskan diri dari usikan nakal para tetamu yang hadir, sebelum bersedia untuk majlis seterusnya. Aku sempat bertanya mengenai abang angkatnya itu. Sufian memaklumkan yang abangnya hanya akan hadir untuk majlis petang nanti. Aku mengangguk dan mendiamkan diri. Letih bercampur gembira. Setelah siap menukar pakaian, kami bersedia untuk majlis seterusnya. Kemudia, pintu diketuk bertalu-talu. Sufian membukanya dan aku dapat mendengar sapaan mesra seorang lelaki. “Ah, mungkin Syed Mohd.” Sufian kemudian keluar sektika, agak jauh dari muka pintu tetapi masih jelas pada penglihatanku. Seketika kemudian, Sufian mendekatiku dan memperkenalkan abangnya itu padaku. Aku menoleh dan hampir rebah ketika melihat wajahnya. Dia turut terpana. Namun, kugagahkan jua perasaan ini. Mengapa? Mengapa aku terlupa akan Syed Mohd Amran yang pernah hadir dalam hidupku? Ya Allah! Inikah TakdirMu




Cerpen Lainnya :



TAK BISAKAH DIA ROMANTIS..

Gerimis malam itu masih saja belum reda. Aku tetap saja menanti berhentinya kereta api di stasiun Gambir, menunggu kepulangan Abim yang selalu kunantikan suara lembutnya.Jujur aku sangat rindu padanya dan rindu itu kurasa amat menyekam setelah hampir satu tahun ini kami terpisah pada jarak. Abim berkuliah di yogyakarta sedangkan aku sendiri meneruskan kuliahku di Jakarta

Kereta api sudah berhenti dan penumpang berhuyung-huyung turun. Mataku sibuk mencari Abim diantara kerumunan orang berlalu-lalang. Namun sayang tak kudapati Abim di sana. Janjinya untuk datang menemuiku kurasa hanya janji belaka. Kesetiaanku menunggunya di stasiun selama dua jam berlalu begitu saja. Amat dingin kurasa udara malam itu, tapi hatikulah yang lebih merasakan dingin. Mimpiku yang saat itu akan kurasakan pelukan hangat Abim serasa melayang jauh bersama sepinya stasiun.

        Aku masih saja berdiri termangu. Mataku sudah basah akan air mata, menahan gejola hatiku yang kian membara.
        “hai…lama ya nunggu aku” ucap seseorang lembut.
Aku berbalik arah. Mataku melotot terkejut melihat Abim telah berdiri di depanku seraya nyunggingin senyum manisnya. Aku hanya tersenyum haru dan semenit kemudian aku segera merangkul Abim, melepaskan kerindukanku padanya selama ini.

        “kamu membuatku hampir menangis Bim” ucapku di sela isakan tangisku.
        “bukan hampir tapi emang sudah kan?” canda Abim. Aku memukul kecil dada Abim. Merasa haru sekaligus bahagia. Abim hanya tertawa kecil dan mendekapku erat.
        “kita pulang yuk..” ajak Abim.

Aku termangu sesaat. Kecupan lembut yang begitu kurindukan tak kudapati saat itu. Sikap Abim yang selau kaku tetap kudapati meski telah satu tahun kami terpisah pada jarak. Jujur Abim bukanlah tipe cowok romantis. Abim adalah cowok tegas dan bijaksana yang tak pernah memberiku belaian lembut kecuali dengan canda dan leluconnya. Namun begitu aku selalu sayang dan cinta dia. Aku sendiri yakin bahwa Abim juga mencintaiku. Buktinya selama lebih tiga tahun kami pacaran tak sekalipun Abim menyakitiku. Abim selau membuatku tertawa diantara nada-nada humornya. Selama kami pacaran Cuma sekali Abim menciumku ketika aku ulang tahun dan itupun juga di kening.

        “he..kok ngelamun sih, pulang yuk.” Kata Abim mengagetkanku. Aku mengangguk pelan dan membiarkan Abim menggandeng tanganku. Ada yang janggal saat itu kurasakan. Ya.. Abim mau menggandengku.


        Satu jam telah berlalu sia-sia. Abim tak kunjung datang malam itu sesuai janjinya untuk menemuiku di taman. Aku hanya sabar menunggu meski setiap menit malam itu kurasakan penuh dengan rasa iri ketika melihat pasangan adam dan hawa yang tengah memadu kasih. Romantis sekali. Aku jadi teringat akan kata-kata Mita tadi siang yang membuat perasaanku bimbang.
        “menurut gue pacaran tanpa belaian dan ciuman itu ibarat makan tanpa lauk, kurang lengkap.” Ceplos Mita mengomentariku ketika kuceritakan tentang sikap Abim selama kami pacaran. Mendengar komentar Mita aku hanya tertunduk.
        “coba elo pikir selama elo pacaran apa yang sudah Abim kasih ke elo. Cuma kasih sayang? Itu kurang non, apa elo cukup puas dengan ngerasain kasih sayang itu dan apa elo sudah pernah dapat wujud dari kasih sayang itu?”
        “maksud elo?”tanyaku tak mengerti.
        “misalnya kalau dia apel dia ngasih setangkai mawar buat elo atau setidaknya dia mencium kening elo sebagai ungkapan dia sayang dan cinta sama elo”
        “Abim memang tidak pernah melakukannya Mit…” kataku datar.
        “lha trus kenapa elo betah. Cowok nggak romantis gitu kenapa masih elo pertahankan. Bisa makan ati tahu nggak! Boro-boro elo dibelai dipegang saja tidak. Menurut gue cowok seperti itu tidak bisa menghargai arti cinta. Elo benda hidup Rini yang kadang juga ingin disentuh, tapi sayangnya elo bego jika harus rela menyerahkan hati elo pada dia.” ucap Mita panjang lebar yang selalu mengiang-ngiang di telingaku.

Apa benar kata Mita? Entahlah aku sendiri tak mengerti. Kadang aku sendiri sempat berfikir apa benar Abim mencintaiku, karena selama ini Abim tak sekalipun membelaiku ketika dia apel. Hatiku benar-benar sakit mengingat itu semua. Abim bukanlah tipe cowok romantis yang selau kuimpikan, Abim yang selau bersikap biasa bila bersamaku dan anehnya semua itu kujalani begitu saja selama tiga tahun lebih Bukan waktu yang singkat memang, karena itu aku selalu berusaha menepis jauh-jauh kegundahanku soal cowok romantis. Tapi tidak dengan malam itu. Ketidaksabaranku menunggu Abim yang molor datang membuatku semakin yakin kalau Abim tidak menyayangiku ataupun mencintaiku. Hubungan itu hanya sebagai hubungan berstatus pacaran tapi tanpa cinta. Meskipun tiga tahun yang lalu Abim resmi mengikrarkan cintanya padaku.
        “kamu lama ya menugguku? Maaf mobilku mogok tadi” kata Abim menghentikan niatku yang ingin meniggalkan taman saat itu juga.          
        “tidak ada alasan lain?” tanyaku sinis. Abim menatapku janggal.
        “kamu marah Rin?”, tanya Abim datar.
Aku hanya acuh tak acuh. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Abim jika melihat aku marah. Aku ingin Abim mengerti apa yang aku iginkan, menjadi cowok romantis itulah mimpiku. Tidak seperti saat itu. Aku dan Abim duduk dalam jarak setengah meter. Tidak dekat dan mesra-mesraan seperti pasangan lain malam itu.
        “Rin maafin aku, tapi mobilku emang tadi mogok.”
        “kamu kan bisa telepon atau sms aku bim, bukan dengan cara membiarkanku menuggumu kayak gini.”
        “aku lupa bawa Hp Rin.”, ucapnya pelan. Aku tetap tak mengindahkannya.
        “kamu tahu tidak bim, malam ini aku semakin yakin kalau kamu memang tidak pernah serius mencintaiku” paparku tersendat.
        “Rin kenapa kamu bicara seperti itu. Apa kamu kira selama tiga tahun lebih kita pacaran aku hanya iseng saja. Aku pikir kamu bisa paham tentang aku, tapi nyatanya…”
        “ya aku memang tidak paham tentang kamu. Kamu yang kaku dan beku bila di sampingku yang tidak pernah membelaiku dan mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingaku. Kamu yang cuma sekali mencium dan berkata aku cinta kamu. Kamu yang tidak memberiku perhatian-perhatian romantis selama ini. Kamu..kamu bim membuatku muak dengan semua ini”, kataku dengan nada tersendat.  
Mataku telah tergenang air hangat dan aku sunguh tidak sanggup lagi membendungnya.  
        “jadi kamu pikir cinta cuma bisa diungkapkan dengan keromantisan Rin, kamu kira apa hubunga kita terjalin tanpa rasa apa-apa dariku?”, tanya Abim.
Aku masih terdiam bisu dalam tangisku.
        “Rin..selama ini aku mengira kamu sudah mengerti banyak tentang aku, tapi ternyata aku salah. Kamu bukan Riniku yang dulu..”
        “kamu memang salah menilai aku dan akupun juga salah menilai kamu. Menilai tentang hatimu dan tentang cintamu selama ini”
        “perlu kamu tahu Rin aku sangat mencintaimu dan sayangnya rasa cintaku ini harus kamu tuntut dengan keromantisan”
        “aku tidak bermaksud menuntut bim, aku cuma ingin hubungan kita indah seperti orang lain”
        “wujud dari keindahan itu bukan terletak pada keromantisan Rin tapi terletak pada cinta itu sendiri. Aku tidak pernah membelai dan menciummu karena aku menghormati cinta kita. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi ternoda dengan hal-hal yang dimulai dari belaian ataupun ciuman. Aku sayang kamu dan dengan itulah aku bisa buktikan seberapa dalam aku mencintaimu”
Dadaku berdesir seketika. Segera kutatap mata teduh Abim. Disana kudapati keteduhan cinta dan kasihnya.
        “Rin…jika kamu anggap cinta cuma bisa dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan cuma itu saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan suci itu tetap suci sampai kita benar-benar terikat pada hubungan yang halal. Selama ini aku kira kamu bisa mengrti itu semua. Tapi aku salah dan untuk itu aku minta maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu mau”
        “Bim aku cuma..”, ucapku tak kuteruskan.
Ada rasa sesak yang keluar begitu saja di hatiku. Aku telah melukai Abim dan itu bisa kulihat dari kalimat datarnya.
        “kamu tidak salah Rin dalam hal ini. Dan sepautnya aku melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari cowok romantis seperti harapmu. Jangan kamu kira aku tidak pernah mencintaimu, karena itu membuatku terluka. Jujur selama hidaupku aku tidak pernah memikirkan gadis lain selain dirimu”
Bersaman kalimat itu Abim berlalu meninggalkanku. Entah…kenapa bibirku tak mampu mencegah langkah Abim. Semua kurasa bagai mimpi. Hanya dengan satu kesalahan kubuat semua berakhir dalam sekejap.Air matakupun sudah mengalir deras. Seharusnya aku bangga memiliki Abim yang tidak pernah neko-neko. Seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat-pendapat Mita tentang cowok romantis. Seharusnya aku tidak membuat Abim terluka saat itu.


        Kereta api di stasiun Gambir sudah berangkat dua menit setelah aku tiba di sana. Aku berlari kesana-kemari memanggil-manggil nama Abim dari jendela satu ke jendela lain. Namun usahaku itu tanpa hasil. Kereta api dengan perlahan telah membawa Abimku dan juga cintaku pergi jauh. Aku berdiri terpaku melihat kereta api yang kian menjauh. Sesalku menumpuk. Aku datang terlambat hingga tidak sempat mengatakan maafku pada Abim.
        Kini aku mulai sadar bahwa tidak ada yang lebih bisa membahagiakanku kecuali dengan kehadiran Abim. Bagaimanapun dia, romantis ataupun tidak dialah orang yang benar-benar aku cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walau tanpa kemesraan saat itu membelaiku dengan rasa yang teramat. Asaku telah pergi dan itu cuma bisa kulakukan dengan menangis terpekur di tempatku berdiri. Hidupku tiada arti tanpa Abim, dengan mencintainya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi tuntutan untuk dia berubah menjadi Abim yang romantis. Rasa sesal telah membuatku menyimpan permintaan maaf untuk Abim.
        Sampai dadaku tersentak merasakan tangan seseorang meraih bahuku. Aku menatap tajam wajah itu. Mata teduhnya yang selalu membuatku merasa damai jika didekatnya. Kelebutan jiwanya senantiasa menyuguhkan warna indah dalam memoriku dan sungguh tidak ada yang lebih romantis selain dia….



Cerpen Lainnya :







Selasa, 01 Februari 2011

arti Sebuah kata cinta

Cinta seperti matahari, ia tetap bercahaya. Walau malam menjelma, cahayanya pada bulan tetap menerangi kekadang ia juga gerhana tetapi akan kembali jua kecerahannya.

Cinta adalah santapan jiwa. Jiwa tanpa cinta bagai rumah yang kosong. Cinta tanpa menjiwai bagai layang-layang putus tali.

Cintu adalah buta…cinta tidak mengenal usia, paras rupa, mahupun kekayaan dan harta karun, tetapi dari keikhlasan dari hati setiap insan antara satu sama lain.

Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadang kala dibalas dengan sikap tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya, maka tidak ada gunanya cinta yang dibuat-buat.

Sayang tidak bermaksud cinta. Suka tidak serasi dengan cinta. Kagum tidak bererti cinta. Bangga tidak semestinya cinta. Cinta adalah CINTA .

Cinta itu seperti sinar matahari, memberi TANPA mengharap kembali. Cinta itu seperti sinar matahari, TIDAK MEMILIH siapa yang ia sinari. Cinta itu seperti sinar matahari yang MEMBERI KEHANGATAN DI HATI..

Cinta umpama ‘treasure hunt’. Cita cita dan tujuan kita satu untuk menuju ke penamat yang paling mengembirakan. Namun di dalam perjalanan kita akan menghadapi pelbagai rintangan dan cabaran. Andainya tidak mampu meneruskan, kita akan tersungkur dan hadiah utamanya akan di kebas oang lain. Tetapi tak usahlah kecewa. Walaupun hadiahnya tidak kita perolehi, tetapi keseronokannya kita sudah rasa. Jadi bercintalah sepenuh hati. Namun jangan letakkan harapan terlalu tinggi.

Kekecewaan terlalu pahit untuk ditelan, terlalu payah untuk dilupakan namun dalam cinta pasti akan merasai kecewa dan dikecewakan walau bukan itu matlamat dalam setiap percintaan.

Kadangkala orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cintanya padamu kerana orang itu takut kau berpaling dan menjauhinya. Dan bila dia suatu masa hilang dari pandanganmu….kau akan menyedari dia adalah cinta yang tidak pernah kau sedari….

Cinta suatu yang indah, cinta boleh buat kita gundah, cinta buat hati berdarah dan cinta jua boleh membawa kesalan yang tak sudah...

Senin, 31 Januari 2011

Kumpulan Status Facebook Lucu Unik Gokil



Kumpulan Status facebook Lucu n gokil: Bosen baca status fb temen gw yg pada curhat smua, nih ada status facebook yang lucu lucu dan gokil abiss.... status lucu facebook.

Berikut adalah kumpulan status lucu di Facebook
"masa tadi dibawah ada yg manggil gw "Irwansyah Irwansyah"... trus nengok.. dia nanya gini “Acha Septriansah-nya kemana??”... walahhh kok bisa gitu.."

"ketemu sama orang gila kmaren yg manggil gw "Irwansyah".. skrg dia malah manggil gw "Budi Anduk"... gw lgsung kabur aja takut disangka fitnah.."

"Masa depanmu tergantung pada mimpimu,mari kita tidur"

"Sial.. aku lupa akun password Facebooku" ( klw lupa kok bisa update status ya? :D )

" Kata Ustadz..cintailah tetangga asal jangan sampai ketangkap basah"

"Gue nggak siuka status yuang lebay duech.."

"Sedang memandang botol baygon"

"Tadi aku bunuh diri"

"Semoga nggak ada yang membaca statusku ini"

Status Lucu
-Tolong aku..Ada orang yang menyebalkan,tadi waktu di Bus ada orang yang foto aku ketika aku mau tidur.. gimana nih..

-Aku sedih sekali.. permintaan pertemananku ditolak..

-Kalau komentar statusku ini ada 50 komentar lebih,Aku janji foto telanjang di koleksi fotoku.. (setelah itu dia ingkar janji)

-Walah.. baru puting beliung aja udah kaya gitu,gimana kalau udel beliung, apalagi udellle buodong..

KPI mengharamkan bagi pria menikahi wanita sekantor, ya iyalah, ngurus istri satu aja susah apalagi satu kantor
Percayalah..cinta itu buta..tetapi cinta bisa melihat di kegelapan,cobalah tanya kepada ayah ibu..dalam gelap,benih cinta mereka tetap tumbuh”
katanya gaul…kok digauli malah nangis
ada 3 cinta yang tak akan pernah habis, 1. Cinta Tuhan kpd umatnya, 2. Cinta org tua kpd anaknya, 3. Cinta fitri
pemerintah akan segera mengganti warna tabung gas 3kg jadi kuning , kelabu , merah muda atau biru, warna hijau pasti meledak
Orang baik dibilang sok suci, orang jujur dibilang bego, orang sabar dibilang takut, orang mau tobat dibilang sok alim, orang alim dibilang kampungan, orang mau disiplin dibilang sok disiplin, trus yang loe puji apa? Penjahat kelamin? koruptor? Maling? Preman?
Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Tapi kalau bukan jodohku, Jodohin dong….
“waah bosen ni..kalau masuk neraka ntar ketemu ente-ente lg ni”
“mengapa why tidak pernah never? karena because..”
Please show me the way to reach it,,, or please come to me… PLEASE…
Waahhhh pujaan hatiku cantik sekali….. kalau aku jadi dia pasti aku sudah ikut miss Universe atau miss Indonesia..
Dulu pernah mimpi ada bidadari memberi hatinya padaku,, katanya mulai sekarang kamu bisa mendapatkan hati seluruh wanita di dunia ini.. kemarin malam mimpi lagi.. bidadari tersebut meminta kembali hatinya.. katanya kamu tidak membutuhkannya lagi karena kamu sudah mendapat hati bidadari dari kalangan manusia….–


hahahahha.........jangan lupa kasih coment ya........!!!!!!